Dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuanku bertahan.
Akan kuselundupkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, membaca pikirannya, memata-matai perasaannya.
Aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.
Kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.
Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang sana. Menikmati apa yang kusanggup.
Nikmati bayangmu. Itulah saja cara yg bisa untuk ku menghayatimu, untuk mencintaimu.
Sesaat dunia jadi tiada, hanya diriku yang mengamatimu, dan dirimu yang jauh di sana.
Ku tak kan bisa lindungi hati. Jangan pernah kau tatapkan wajahmu. Bantulah aku semampumu.
Rasakanlah isyarat yang sanggup kau rasa tanpa perlu kau sentuh.
Rasakanlah harapan, impian, yang hidup hanya untuk sekejap.
Rasakanlah langit, hujan, detak, hangat napasku.
Rasakanlah isyarat yang sanggup kau tangkap tanpa perlu kuucap.
Rasakanlah ruang, waktu, puisi. Itulah saja cara yang bisa utk ku menghayatimu. Untuk mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar